Jikalau kamu nanti sempat hilang aku bingung.
Tapi kalau saja kmu ada sama halnya aku pun bungkam.
Knapa dengan kita ?
Mungkin bukan kita tetapi aku sndri.
Jangan sesekali kamu salahkan sifatmu.
Karna aku mencintai seluruhnya dari drimu.
Bukan tak terkecuali sehelai rambut mu aku benci.
Ataupun satu inci kulitmu aku tak sukai.
Kamu harus tau.
Suatu saat nanti ketika tiap pagi aku memberi kabar nanti tak akan ada lagi.
Krna sebelum waktu itu datang tak sedetik pun aku mau pergi.
Tak secepat pikiranmu tak secepat keinginan tuhan.
Tapi selama apapun yang kamu mau aku coba hadir.
Bila nanti ada obrolan tak menyenangkan hati.
Aku ingin cepat akhiri karna tak satu huruf pun ingin membuatmu menangis.
Karna pagi ini begitu indah hingga ku tulis puisi ini agar kamu tau.
Indah nya pagi ini tak seindah jika kamu hadir.
Fikeh P.
Jangan bandel ya sayang ;)ting
06 Februari 2011
15:56
Entah kenapa setiap aku membaca puisi mu waktu itu aku langsung menetes.
Bukannya aku egois karena tak mau melepasmu nanti.
Tapi, aku sudah terlalu jauh jatuh ke lubang rasa sayang yang telah kau buat dan kurasakan dan aku rasa aku tidak akan kuat melawan keadaan ketika kau pergi dikemudian hari.
Maafkan aku sayang kalau aku terlalu ingin selalu bersamamu, maafkan aku.
Setiap detik kita bersama sebenarnya aku ingin selalu menatap bola mata-mu, menciumi aroma parfum-mu, dan memeluk erat seakan kau tak boleh pergi dari-ku.
Aku takut jika itu terjadi, sungguh aku takut rasanya kehilangan dirimu.
Dimana setiap hari-hariku selalu kau memberi tawa dan mengajari-ku arti hidup ini.
Tuhan, aku mohon pada jangan kau takdirkan dia untuk pergi dari-ku, jangan Tuhan.
Kamar Tidur
Jakarta, 24 Maret 2011.
22:26 - 22:35
Intan A. Oktavia
Tapi kalau saja kmu ada sama halnya aku pun bungkam.
Knapa dengan kita ?
Mungkin bukan kita tetapi aku sndri.
Jangan sesekali kamu salahkan sifatmu.
Karna aku mencintai seluruhnya dari drimu.
Bukan tak terkecuali sehelai rambut mu aku benci.
Ataupun satu inci kulitmu aku tak sukai.
Kamu harus tau.
Suatu saat nanti ketika tiap pagi aku memberi kabar nanti tak akan ada lagi.
Krna sebelum waktu itu datang tak sedetik pun aku mau pergi.
Tak secepat pikiranmu tak secepat keinginan tuhan.
Tapi selama apapun yang kamu mau aku coba hadir.
Bila nanti ada obrolan tak menyenangkan hati.
Aku ingin cepat akhiri karna tak satu huruf pun ingin membuatmu menangis.
Karna pagi ini begitu indah hingga ku tulis puisi ini agar kamu tau.
Indah nya pagi ini tak seindah jika kamu hadir.
Fikeh P.
Jangan bandel ya sayang ;)ting
06 Februari 2011
15:56
Entah kenapa setiap aku membaca puisi mu waktu itu aku langsung menetes.
Bukannya aku egois karena tak mau melepasmu nanti.
Tapi, aku sudah terlalu jauh jatuh ke lubang rasa sayang yang telah kau buat dan kurasakan dan aku rasa aku tidak akan kuat melawan keadaan ketika kau pergi dikemudian hari.
Maafkan aku sayang kalau aku terlalu ingin selalu bersamamu, maafkan aku.
Setiap detik kita bersama sebenarnya aku ingin selalu menatap bola mata-mu, menciumi aroma parfum-mu, dan memeluk erat seakan kau tak boleh pergi dari-ku.
Aku takut jika itu terjadi, sungguh aku takut rasanya kehilangan dirimu.
Dimana setiap hari-hariku selalu kau memberi tawa dan mengajari-ku arti hidup ini.
Tuhan, aku mohon pada jangan kau takdirkan dia untuk pergi dari-ku, jangan Tuhan.
Kamar Tidur
Jakarta, 24 Maret 2011.
22:26 - 22:35
Intan A. Oktavia
***
Itu yang pernah-ku tulis tapi kau tidak pernah tahu aku pernah membalas puisi-mu (atau pesan yang telah kau kirim) waktu itu mungkin karena aku tidak ingin memberitahumu tentang puisi (atau pesan) itu, atau miungkin kau lupa telah menulisnya. Sudahlah semua juga telah berakhir tepat pada bulan puasa ini Ramadhan, aku akan selalu merindukan-mu anak kurus rindu akan pelajaran yang telah kau beri pada-ku mengajarkan banyak arti hidup, menghargai waktu (walau kau juga pasti belum mampu menghargainya) semuanya aku selalu rindu dengan apa yang telah kau ajarkan kepadaku selama ini.
Bukannya aku tidak pernah ikhlas untuk melepasmu dariku seperti keputusanmu waktu itu, tapi aku sedang belajar mencoba perlahan untuk ikhlas dengan semua ini dengan keadaan ini aku bukannya menyarah sepertimu yang termakan oleh keadaan aku hanya sedang mencoba membaikkan keadaan yang telah rusak menjadi agak memulih, bukannya menuntut harus terus bersamamu dan juga bukannya mengemis untuk tetap bersamamu. Tolong jangan berpikir buruk tentang hal itu, aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan bukan berarti kau harus menuruti semua apa yang ku katakan kepadaku, toh selama ini kita saling beralajarkan dari apa yang telah kita kita lakukan bersama-sama. aku memang tidak pandai dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada dalam diriku dan dalam hubungan kita waktu itu tapi selama ini aku memcoba untuk memperbaiki apa yang telah rusak dan aku berusaha walaupun kau tidak pernah tau apa yang aku lakukan dan aku selalu yakin dengan apa keputusan yang aku ambil aku selau meyakinkan diriku kalau hal itu baik untukku walaupun kata orang aku bodoh dan idiot. tapi, yasudahlah semuanya juga sudah berakhir :') aku selalu merindukanmu dan menyayangimu anak kurus :) LOVE YOU SO MUCH KURUUUS!!!! :* #eh #maaf hahahahaha :)) saya tak akan melupakanmu, karena tak layak seseorang yang kita sayangi dan dicintai dilupakan begitu saja seperti benda kotor yang berserakkan dimana-mana.
Intan A. Oktavia
Jakarta, 20 Agustus 2011
Kamar tidur.
NB:
ini yang tidak pernah berani aku upload karena kalau saya baca pasti saya menetes, maaf ya sekarangpun begitu :') dan aku capek bermunafik berpura-pura tidak sedih kehilangan anda.


No comments:
Post a Comment